MAKALAH
MK.
PR. ILMU PANGAN LANJUT
PENYIMPANAN
SAYUR - SAYURAN
DISUSUN OLEH:
DIAH
APRIYANI
PROGRAM
STUDY DIPLOMA III GIZI
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMAD HUSNI THAMRIN
JL.RAYA
PONDOK GEDE NO: 23 – 25 KRAMAT JATI
JAKARTA
TIMUR – TELP (021)8096411
KATA
PENGANTAR
Puji syukur atas segala rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah “PenyimpananSerealia
dan Umbi-umbian ” dengan baik tanpa halangan
apapun.
Kami menyadari bahwa tiada manusia yang sempurna,karena manusia pasti mempunyai
kekurangan. Kami juga tidak lepas dari
sifat kekurangan itu,sehingga apa yang tertulis dalam makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan walaupun penulis usahakan semaksimal mungkin. Oleh karena
itu, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat
membangun demi menjadi lebih sempurna.
Akhirnya kami berharap semoga makalah
ini memberikan manfaat bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.
Amin.
Jakarta,13
Maret 2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR
BELAKANG
Ketika
pola bercocok tanam masyarakat yang nomaden menjadi menetap disuatu
tempat,mulailah disadari perlunya penyimpanan hasil panen. Sekurang-kurangnya
untuk persediaan satu musim tanam. Namun, masalah yang dihadapi dalam
penyimpanan hasil panen sangat bervariasi tergantung dari tingkat tekhnologi
yang dimiliki. Kondisi penyimpanan yang kurang baik dapat menyebabkan penurunan
mutu pangan tersebut. Oleh karna itu, untuk mempertahankan mutu pangan serta
memperpanjang masa simpan pangan ICC
melakukan tindakan pengawetan pangan.
Pada penyimpanan tersebut beberapa aspek perlu
dipertimbangkan mulai dari aspek karakteristik pangan,pengontrolan kondisi
lingkungan,pemilihan jenis kemasan dan perkiraan masa penyimpanan. Lama
penyimpanan,jenis komoditas dan modelfasilitas penyimpanan yang berbeda untuk
tiap tingkatan beragam menurut fungsi dan kebutuhannya.Mengingat besarnya
peranan penyimpanan hasil pertanian tersebut , maka dalam makalah ini kami sajikan uraian
mengenai karakteristik pangan yang akan disimpan,lingkungan penyimpanan,tekhnik
penyimpanan,dan produk olahan ½ jadi banahn pangan tersebut.
1.2.RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimanakah
cara penyimpanan serealia dan umbi-umbian yang baik dan benar
2. Apa
sajakah produk olahan setengah jadi serealia dan umbi-umbian
3. Apa
sajakah jenis kerusakan mutu pangan yang sering terjadi
4. Bagaimana
tekhnik pengolahan dan penyimpanan
produk ½ jadi
1.3.TUJUAN
Adapun tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah;
a. Memberikan
informasi tentang pentingnya penyimpanan
serealia dan umbi-umbian setelah masa panen
b. Memberikan
info tentang produk olahan setengah jadi serealia dan umbi-umbian
c. Memberikan
info tentang jenis – jenis kerusakan mutu pada pangan.
d. Mengetahui
pengolahan dan penyimpanan produk pangan ½ jadi
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. SEREALIA
Serealia
adalah jenis biji-bijian yang merupakan family gramineae (rumput-rumputan).
Adapun jenis jenis serealia yang umum
dijadikan makanan pokok di seluruh dunia antara lain: beras (Oryza sativa),gandum (Tritium vulgare),sorgum (Sorghum vulgare),jagung (Zea mays),serta bijian lainnya.
Penyimpanan serealia
Padi
Serealia jenis beras dapat di lakukan dengan curah (bulk) atau dibungkus
karung. Adapun faktor-faktor yang harus
di perhatikan dalam penyimpananjenis serealia ini antara lain:
Ø Faktor
internal beras atau serealia
a)
Kadar air
Kadar air dalam
serealia merupakan sifat yang paling dominan
mempengaruhi daya tahan beras untuk di simpan tanpa menjadi rusak dan busuk
diserang hama gudang. Kadar air yang aman untuk menyimpan biji-bijian adalah
13-14%. Serta kelembapan relatif kesetimbangan (RH) sekitar 70% dan massa udara
0,70 pada suhu normal 27-300C.
b)
Kadar butir patah ( pecah)
Patah
ialah bila biji beras pecah menjadi kurang dari ¼ ukuran biji awal. Biji yang
patah sangat mudah diserang hama gudang
baik jasad renik atau serangga. Pada umumnya batas kadar biji patah yaitu
kurang dari 25% dari 100gr biji
tersebut.
c)
Kadar biji rusak atau benda asing lainnya
Biji rusak ialah bila bewarna lain dari
umumnya. Warna umum beras adalah putih bening dan sedikit abu2. Sedangkan warna
yang dianggap tidak normal adalah hijau, kuning ,hitam. Warna hijau dan kapur menandakan
biji gabah terlalu muda saat dipanen. Warna kuning sampai hitam biasanya
disebabkan oleh pengaruh panas dan serangan jamur atau Penicillium islandicum dan Penicillium
citrium. Adapun batas butir yang rusak adalah 5%.
Yang
disebut benda asing adalah benda-benda bukan beras seperti kerikil, butir tanah
liat kecil. Hal ini dapat mempengaruhi mutu beras karna benda asing biasanya terkontaminasi
dengan jasad renik yang dapat menimbulkan kerusakan. Jumlah biji-bijian
(serealia) yang akan sesuai harus sesuai dengan luasnya penyimpan ( harus
lapang).
Ø Faktor
eksternal ( ekosistem penyimpanan )
Lingkungan penyimpanan
dipengaruhi oleh 3 hal yaitu;
a)
Faktor abiotik (faktor lingkungan ) dan
faktor biotik ( biologi )
·
Massa udara sekitar 0,62-0.70
·
Kelembapan udara ( Rh )
b)
Pindah panas dan migrasi air;
·
Sumber panas baik internal (dari
aktivitas jasad renik dalam serealia ) atau eksternal (dari perbedaan suhu
siang dan malam)
·
Proses
respirasi biji-bijian yang menghasilkan 26.100 kJ untuk tiap kg
biji-bijian. Besarnya jumlah respirasi memberi kemungkinan digunakan
untukpengeringan biji-bijian secara alami.
·
Migrasi intergranulasi secara konveksi
pada penyimpanan biji-bijian. Pada bagian yang lebih dingin dapat terjadi
pengembunan yang mengakibatkan berbagai kerusakan.
c)
Tekhnik penyimpanan
Terdapat
4 tekhnik penyimpanan biji-bijian yaitu ;
1. Penyimpanan
pada kadar air normal
Penyimpanan dengan sistem aerasi yaitu;penyimpanan
beras pada kadar air normaldengan prosedur penyimpanan pembersihan,pengeringan
dan pemberirian desinvektan dan menggunakan beberapa tekhnik antara lain; ventilasi alami
(mengeluarkan kelebihan uap air
1-2%),ventilasi mekanik (mengontrol migrasi air), pergerakan (perpindahan
bij-bijian dari 1 tempat ke tempat lainnya), pengeringan artifisial (pemanasan
udara sampai 5-100C di atas
suhu awalnya yang menurunkan kelembapan sekitar 30%)
2. Penyimpanan
pada kadar air tinggi
Di daerah tropis dapat dikembangkan
penyimpanan biji-bijian dalam keadaan basah,dimana Aw 0.60 hingga
0.85dengan dilengkapi cara stabilitas kimia (dengan as.organikdan garam),
iradiasi sinar gamma (dengan batas 10 Kgy atau 1000 Krad), penyimpanan
anaerobik ketat(dengan kadar oksigen rendah atau vakum),penyimpanan pada suhu
rendah sekitar 100C.
3. Penyimpanan
vakum
Penyimpanan vakum adalah penyimpanan
produk pertanian dalam wadah tertutup sehingga terlindung dari pengaruh udara
dan air dari luar. Keuntungannya adalah; kecil kemungkinan masuknya serangga
dan binatang ke dalam wadah, mencegah
pertumbuhan kapang.Namun selain itu terdapat beberapa kerugian penyimpanan
vakum adalah;perubahan suhu,bau,rasa,kadar air,keasaman dan kualitas tepung
(gluten) dan komposisi udara.
4. Penyimpanan
modifikasi atmosfer
penyimpanan biji-bijian dengan menambahkan
nitrogen dan campuran co2 guna menurunkan kadar o2 selama
10 bulan. Namun,setelah itu akan terdeteksi gas lain yaitu “alkohol
iso-amylique” dan “phenyl-etanol” yang merupakan suatu petunjuk adanya proses
fermentasi.
Ø Bentuk dan tata cara penyimpanan
Penyimpanan biji-bijian ada 2 yaitu; penyimpanan secara domestik (tradisional) yang bertujuan
untuk persediaaan hingga masa panen berikutnya tiba, dan juga penyimpanan
komersial (karung dan sak) untuk dijual belikan.Tata cara penyimpanan biji-bijian
di karung di dalam gudang juga harus teratur dan sistematik. Karung bijian
harus disimpan dengan tertib dan bagian bawahnya jangan langsung menyentuh
lantai tapi harus di beri alas kayu. Hal itu dimaksudkan agar biji-bijian tidak
mengambil dingin dari lantai dan juga tidak akan basah bila lantai terkena
air,dan di bawah alas kayu masih terdapat ruang untuk aliran udara yang
memudahkan ventilasi.
Jagung
Upaya untuk
mempertahankan kualitas jagung pada waktu penyimpanan dan pergudangan dapat
ditempuh dengan menggunakan kabon disulfida (CS2), penyimpanan diatas
para-para, penyimpanan dengan karung dan penyimpanan dengan silo bambu semen,
sedangkan untuk penyimpanan benih jagung dengan menggunakan jerigen plastik,
botol dan wadah dari logam.
Beberapa cara penyimpanan
jagung
ü Menggunakan
Karbon Disulfida (Cs2)
Penggunaan
karbon disulfida (CS2) cair dapat menekan kerusakan jagung pipil selama
penyimpanan. Teknik penggunaan CS2 tidak sulit, karena CS2 cair mudah
teroksidasi, sehingga terbentuk CO2 dan SO2 yang bersifat toksin terhadap
serangga (inago, larva dan telur), serta menghambat mikroorganisme. Penggunaan
CS2 dosis 0.25 cc/kg dengan kadar air 10
% jagung pipil dapat memperpanjang daya simpan jagung pipil sampai dua tahun
dengan kerusakan kurang dari satu persen.
ü Penyimpanan
Di Atas Para-Para
Penyimpanan
jagung dapat dilakukan dalam bentuk tongkol berkelobot pada para-para yang
ditempatkan di bawah atap maupun di atas dapur. Dapat pula dilakukan dalam
bentuk tongkol pada para-para dan pada langit-langit rumah yang dilengkapi
dengan kawat anti tikus. Para-para di atas dapur dapat memperoleh asap yang meninggalkan
residu yang bersifat anti terhadap bakteri, jamur maupun serangga. Dengan
demikian dapat menjamin jagung disimpan dalam waktu yang cukup lama.
ü Penyimpanan
Dengan Karung
Faktor utama
yang perlu mendapatkan perhatian adalah kebersihan dan ketahanan dari jenis
wadahnya. Wadah harus bersih dan tidak bocor,sehingga biji jagung tidak mudah
mengalami serangan oleh hama dan penyakit. Oleh sebab itu gunakan karung
plastik yang dilapis dengan karung goni.Penyimpanan dalam bentuk pipilan sebaiknya kadar airnya diatur setelah
mencapai 13-14%. Karena kadar air di atas 14% merupakan kondisi yang baik untuk
pertumbuhan jamur. Kontaminasi jamur dapat memproduksi bermacam-macam toxin
(racun) antara lain aflatoksin dan hama-hama gudang, sehingga menyebabkan
kerusakan. Wadah yang digunakan sebaiknya menggunakan karung plastik
(plyethelene), karena jagung yang disimpan dalam karung plastik ternyata mempunyai daya simpan lebih
lama dibanding jagung yang disimpan dalam karung goni. Wadah yang digunakan
sebaiknya dibersihkan terlebih dulu, bila perlu disemprot dengan cairan
insektisida Silosan 25 EC 2% dan Damfin 50 EC dosis 500 cc / 10 lt untuk 500
m2.
ü Penyimpanan
Dengan Silo Bambu Semen
Jagung dapat
disimpan dalam silo bambu semen. Silo ini mudah didapat karena bahan
bangunannya mudah diperoleh di pedesaan. Kapasitas silo adalah 1.000 kg (1ton)
dengan ukuran 125 cm dan tinggi 100 cm. Cara penyimpanannya yaitu jagung pipilan
dikeringkan sampai kadar air mencapai 12,5 – 13 %, kemudian diangin-anginkan
selama 2 – 4 jam dan dimasukkan ke dalam silo.. Penyimpanan jagung dengan silo
bambu semen dapat bertahan 4 - 8 bulan tanpa ada hama gudang.
Gandum
Penyimpanan merupakan proses untuk mempertahankan bahan/hasil produksi
agar tetap dalam keadaan baik dalam jangka waktu tertentu. Penyimpanan gandum
dapat dilakukan dengan sistem curah atau menggunakan kemasan/wadah seperti
karung plastik, dan lain-lain.
Sorgum
Penyimpanan
sederhana adalah dengan cara menggantungkan malai sorghum di ruangan di atas
perapian dapur. Cara ini berfungsi ganda yaitu untuk melanjutkan proses
pengeringan dan asap api berfungsi pula sebagai pengendalian hama selama
penyimpanan.
Beras sorgum yang telah di masukkan ke dalam karung goni atau tanpa pengarungan perlu di simpan di dalam gudang yang memenuhi syarat penggudangan. Syarat-syarat penggudangan antara lain: bebas dari serangan hama dan penyakit, suhu dan kelembaban terawasi dan pengendalian udara yang teratur. Sebelum disimpan biji harus kering, bersih dan utuh (tidak pecah).
Beras sorgum yang telah di masukkan ke dalam karung goni atau tanpa pengarungan perlu di simpan di dalam gudang yang memenuhi syarat penggudangan. Syarat-syarat penggudangan antara lain: bebas dari serangan hama dan penyakit, suhu dan kelembaban terawasi dan pengendalian udara yang teratur. Sebelum disimpan biji harus kering, bersih dan utuh (tidak pecah).
Produk
setengah jadi serealia
Produk olahan ½ jadi
serealia antara lain; pasta,rengginang beras instan, tepung beras, maizena,
tepung terigu(sebagai bahan dasar pembuatan roti,mie,spageti,makroni,biskuit,dll),keripik
jagung atau tortila,emping jagung, marning jagung, kerupuk jagung.
Pengolahan produk
pangan setengah jadi
TEKNOLOGI PENGERINGAN• Biasanya untuk pembuatan
tepung-tepungan, keripik jagung, minuman serbuk Drum Drying Freeze Drying Spray
Dryer. Dengan cara; bahan berwujud
(asli) dibekukan pada suhu tinggi. Kemudian total padatan
dikeringkan. Proses pengeringan dan penyalut minimal dalam:tekanan
tinggi.Hasil berupa butiran suspensi 60% yang
halus. Lalu hasil di panas untuk proses lembaran tipis (film) sublimasi
berasal yg kemudian digiling dari radiasi atau heater.
Penyimpanan
produk setengah jadi
Penyimpanan tepung (produk olahan
setengah jadi serealia) biasanya menggunakan
karung plastik dan diletakkan diatas alas kayu pada lantai gudang. Hal
ini mencegah tepung agar tidak terkontaminasi dengan air dan mikroorganisme
serta jasad renik penyebab ketengikan pada tepung.
2.2.UMBI-UMBIAN
Umbi-umbian
adalah bahan nabati yang diperoleh dari dalam tanah. Umbi-umbian juga merupakan
sumber karbohidrat pati. Kandungan patinya sekitar 18,2%. Secara biologi, umbi
dibedakan berdasarkan organ dasar antara lain;
a.
Umbi lapis (bulbus) contohnya; bawang
merah (Allium cepa L.) dan bawang
putih (Allium sativun L)
b.
Umbi batang contohnya; kentang,
c.
Umbi akar contohnya; wortel, lobak,
singkong, ubi jalar, ubi ungu,dll.
Penyimpanan umbi-umbian
Ada
banyak cara dan jenis penyimpanan yang dapat kita lakukan untuk tiap-tiap jenis
umbi yang bermacam-macam antara lain;
1)
Penyimpanan ubi kayu /singkong
Simpan ubi kayu di tanah/pasir yang telah
dilubangi ,beri alas jerami atau daun-daun kering,masukan ubi secara teraturdan
tersusun rapi,kemudian tutup kembali
lubang tersebut dengan timbunan tanah/pasir,sebaiknya sebelum menyimpan
umbi-umbian dilakukan pemeriksaan keadaan ubi dengan tekhnik nin singkong dapat
bertahan 1-2 bulan setelah masa panennya.
2) Penyimpanan ubi jalar ( Ipomea batatas Poiret ) sebaiknya dilakukan dengan cara-cara berikut
agar dapat mempertahankan rasanya antara
lain;
Angin-anginkan
ubi yang baru di panen dilantai yang
kering selama 2-3 hari.Simpanlah ubi jalar di tempat yang kering,sejuk dan
berperedaran udara yang baik.Tumpukan ubi jalar dilantai gudang,kemudian timbun
dengan pasir kering atau abu setebal 20-30 cm hingga semua permukaannya
tertutup. Dengan cara ini, ubi jalar dapat bertahan sampai 5 bulan lamanya.
3) Penyimpanan
umbi talas (Colocasia skulenta L)
Penyimpanan talas sebaiknya ditempatkan secara teratur di
gantungan /rak agar mendapat sirkulasi udara yang baik dan diamkan selama
beberapa hari sampai mengering. Kemudian pisahkan anakan umbi dengan induknya
tampa menggunakan pisau agar kulit umbi tidak lecet.
4) Penyimpanan
kentang (Solanum tuberosum L)
Kentang tidak dianjurkan disimpan
di dalam kulkas,cukup ditempat yang kering dan sejuk. Kentang dapat disimpan
selama 3 bulan dengan cara pelapisan dengan cairan emulsi lilin.
5) Penyimpanan
bawang merah
Bawang merah yang belum dikeringkan
hanya dapat disimpan sekitar satu minggu lamanya dalam suhu ruang. Jika
disimpan lebih lama, akan terjadi pembusukan dan kapang akibat Aspergilus niger. Penyimpananya biasa
dilakukan dengan cara menggantungnya diatas perapian. Dengan perkiraan kadar
air 80-85%,suhu 30-350C,dan RH 64-75%. Selain itu, bawang merah juga
dapat disimpan pada suhu 00C
dan RH 65%.
6) Penyimpanan
bawang putih
Dalam keadaan kering bawang putih
dapat disimpan selama 6 bulan dengan syarat saat panen umbi tidak rusak. Penyimpanan
bawang putih dengan cara pengasapan. Sehingga kemungkinan kecil bakteri dan mikroorganisme lainnya
menkontaminasi bawang putih. Masa simpan bawang yang telah diasap sekitar 8
bulan.
Produk
½ jadi umbi-umbian
Produk olahan ½ jadi umbi-umbian antara
lain; tepung tapioka (dari ubi kayu),opak, keripik, tiwul, gaplek, dll.
Pengolahan
produk setengah jadi umbi-umbian
Biasanya untuk pembuatan tepung-tepungan, keripik, dan
olahan ½ jadi lainnya digunakan tekhnik pengeringan ( evaporasi) dengan langkah-langkah bahan asli di bekukan
keudian diberi larutan,lalu di endapkan ,setelah itu dilakukan proses
pengeringan dengan tekanan tinggi sampai membentuk butiran halus yang akan di olah lagi sampai kepadatan 60%
dan bertekstur halus ( tepung) untuk di
olah sesuai kebutuhannya.
Penyimpanan
produk olahan setengah jadi
Tidak ada perlakuan khusus untuk menyimpanan produk
olahan ½ jadi umbi yang berupa tepung
ini. Penyimpanannya hanya perlu dilakukan di karung,plastik serta silo-silo
penyimpanan yang tersedia dengan memperhatikan syarat dan faktor-faktor yang
mempengaruhi penyimpanan.
2.3.
KERUSAKAN MUTU SEREALIA DAN UMBI-UMBIAN
Kerusakan
mutu serealia dibagi menjadi 3 kelompok
yaitu:
·
Kerusakan mikrobiologi (mikroba) seperti
bakteri, kapang dan khamir. Pertumbuhan ketiga mikroba tersebut dipengaruhi
oleh; aktifitas air Aw, suhu penyimpanan, ketersediaan O2,
pH dan kandungan gizi bahan pangan. Kondisi pertumbuhan yang disukai kapang dan
khamir adalah pH <4.5 (berasam tinggi) dan menyukai karbohidrat serta gula
dalam bahan pangan, sedangkan bakteri lebih menyukai pangan berpH >4.5 (berasam rendah) dan menyukai
kandungan protein dalam pangan. Kerusakan mikrobiologis sering disertai
produksi racun yang berbahaya bagi manusia.
·
Kerusakan fisik dan mekanik akibat
faktor mekanis (vibrasi, dan benturan dengan bahan atau alat saat distribusi)
·
Kerusakan kimiawi akibat adanya reaksi
enzimatis (pencoklatan yang dipengaruhi oleh aktifitas enzim polifenolase,
suhu, pH, lama penyimpanan dan ketersediaan O2) serta reaksi non
enzimatis (reaksi mailard,dan karamelisasi atau proses pemecahan sukrosa) dan
ketengikan akibat reaksi oksidasi dan hidrolisis bahan pangan.
·
PerubahanKomposisiSelamaPenyimpanan
1. Respirasi
Suhutinggiakanmempercepatrespirasi
Kadar air tinggiakanmempercepatrespirasi
2.
PerubahanKarbohidrat
Terbentuknyabauasamdanapekdarikarbohidratkarenakegiatanmikroorganisme
3. Perubahan
Protein
Nitrogen total tidakmengalamiperubahanakantetapi nitrogen dalam protein
menurun.
Kerusakan
mutu umbi-umbian antara lain;
·
Kerusakan yang terjadi pada umbi-umbian adalah
terjadi perubahan warna pada daging umbi yang segar menjadi coklat. Proses ini
biasa disebut kepoyongan atau pencoklatan. Proses pencoklatan pada umbi
disebabkan oleh reaksi enzimatis umbi yang dapat menyebabkan perubahan rasa
umbi menjadi pahit dan teksturnya menjadi lebih keras.
·
Kerusakan lainnya berupa kulit
terkelupas,memar dan terpotong secara mikrobiologis dan pertumbuhan kapang
dengan disertai perubahan warna dan bau. Secara kimia perubahan ini disertai
pola-pola warna kebiruan, coklat, serta kehitaman baik oleh enzim atau non
enzim. Secara biologis hal ini ditandai dengan adanya bekas gigitan
hama/lubang-lubang bekas serangga.
Berikut
adalah contoh beberapa mikrotoksin dalm tabel dibawah ini
Mikrotoksin
|
Jenis kapang
|
penyakit yg dihasilkan
|
bahan pangan yg diserang
|
Alfatoksin
|
Aspergilus flavus, A.
parasiticus
|
Liver,
kanker hati
|
Serealia,
jagung dan kacang-kacangan
|
Asam
penisilat
|
Penicillium
cyclopium, P.martensii, P.chraceus
|
Pembentukan
tumor, kerusakan ginjal
|
Jagung,
barley dan kacang-kacangan
|
Ergotoksin
|
Claviceps purpurea
|
Kerusakan
hati
|
Serealia
|
Okrakoksin
A
|
A.Ocrhraceus,
A.mellus, A.sulpherus
|
Kerusakan
hati, liver,abortif
|
Jagung,
barley, kacang-kacangan
|
Alimentary
toxic aleukia (ATA)
|
Cladosporium spp,
Penicillium, Fusarium, Mucor alternaria
|
Kerusakan
hati
|
Serealia
|
Sterigmatosis
Tin
|
A.regulosus,
A.nidulans, p.luteum
|
Sirosis
hati, kanker hati
|
Gandum,oats
|
Luteoskyrin
(islandi toksin)
|
Penicillium
islandicum
|
Kanker
hati, nekrosis hati
|
Tepung
beras, jewawut,sorgum, dan serealia
|
Hama
pada umbi
1. Uret (Xylenthropus)merusak akar dan batang umbi.
1. Uret (Xylenthropus)merusak akar dan batang umbi.
2. Tungaumerah (Tetranychusbimaculatus) merusak
permukaan daun dan menghisap cairan umbi
Penyakit pada umbi
1. Bercakdaunbakteri( Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial.)
2. Layu bakteri
(pseudomonas solanacearum E.F. Smith)
3.
Bercakdauncoklat(Cercosporaheningsii)
4. Bercakdaunkonsentris (Phomaphyllostica)
BAB
III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
Serealia dan umbi-umbian merupakan
sumber pokok dari karbohidrat, yang masa panennya musiman. Oleh karna itu untuk
mempertahankan mutu dan persediaan bahan pangan tersebut sampai masa panen
berikutnya diperlukan tekhnik dan cara
penyimpanan serealia dan umbi yang benar. Fungsi lebih luas dari penyimpanan
adalah sebagai sarana pengendali ketersediaan pangan. Namun, meskipun bahan
makanan yang disimpan akan menjadi tahan lama,kita tetap harus memperhatikan
masa kadarluwarsa pangan tersebut,agar tidak menimbulkan penyakit dan kerugian
bagi konsumen.
Proses pengolahan bahan makanan
setengah jadi biasanya dilakukan
seminimal mungkin atau sesuai kebutuhan. Hal tersebut dilakukan untuk
meminimalkan hilangnya kandungan gizi dalam makanan tersebut. Sebagai contoh
dalam pengolahan tepung,dll .
3.2 SARAN
Semoga pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca. Kami selaku penulis memohon
adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Rizal syarif, Hariadi hallid,1993.Tekhnologi Penyimpanan Pangan. Penerbit
ARCAN. Jakarta
Soesarsono,1980.Tekhnologi Penyimpanan Komoditas Pertanian.
IPB, Bogor.
Rizal syarief, dan I. Aniez. 1988. PengetahuanBahanUntukIndustriPertanian. MediyatamaSaranaPerkasa.
Jakarta.